Banua Dayak

Tuah Jubata Ka' Talino

Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan


Rumah Betang Lambang Kerukunan Masyarakat Dayak

Selain berupa penanda fisik berupa daun telinga yang panjang dan banyaknya tato yang tergambar pada tubuh mereka, ada satu hal yang menjadi kekhasan warga Dayak : rumah Betang/rumah Panjang. Rumah panjang ini setara dengan nilai kerukunan yang diusung warga Dayak. Para orang tua Dayak senantiasa menekankan pentingnya kebudayaan Dayak yang berupa dikap mau berbagi dan hidup rukun dengan para anggota rumah panjang. Hidup rukun seperti sudah mendarah-daging dalam kehidupan warga Dayak dahulu. Kerukunan warga Dayak ini seringkali menimbulkan kekaguman dari warga non-Dayak. Rumah panjang pun kemudian dipandang sebagai sebuah komponen penting dalam menjaga kerukunan dan hubungan-hubungan yang lebih akrab. Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku.

Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan sistem barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak). 1.

Bentuk dan besar rumah Betang berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang panjangnya mencapai 150 meter dan lebarnya mencapai 30 meter. Rumah Betang umumnya dibangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter di atas tanah. Ketinggian Rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari dan mengantisipasi ancaman banjir yang sering menimpa daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan. Banyaknya Rumah Betang di suatu pemukiman bisa lebih dari satu, tergantung banyaknya anggota komunitas di hunian tersebut. Setiap keluarga menempati bilik yang disekat-sekat dari Rumah Betang yang besar tersebut.

Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Nilai utama yang  menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. 2. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan, mereka menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial. Budaya Rumah Betang adalah budaya yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa.

Rasa kebersamaan dan persaudaraan tampak setiap ada permasalahan yang menimpa salah satu penghuni. Jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan elektronik. 3.

Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Dibeberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan.

Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang. Kini Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern. Kini warga desa lebih banyak tinggal di rumah-rumah individual. Sebagian kalangan tua berpendapat bahwa tinggal di rumah-rumah individual telah membuat warga menjadi terlalu individualistik, sesuatu yang sebenarnya bukan ciri masyarakat Dayak.

Mengenai alasan mengapa warga banyak yang lebih memilih tinggal di rumah-rumah individual, warga mengatakan rumah individual jelas lebih baik karena lebih pribadi dan lebih bersih. Pak Din, salah satu warga yang lebih memilih untuk tinggal di rumah individual berpendapat, baginya ke-Dayak-an tidak hanya ditentukan oleh sebuah kehidupan yang rukun tetapi juga oleh hal-hal yang „modern‟, termasuk pendidikan dan gaya hidup sehat.

Memang, pendapat Pak Din tersebut ada benarnya. Akan tetapi, bukankah lebih baik kebiasaan tinggal di suatu rumah bersama-sama tetap dipelihara? Nilai tinggal bersama sesama warga Dayak adalah nilai yang baik karena tinggal bersama juga menunjukkan keinginan warga untuk hidup rukun dan tidak menunjukkan ketamakan.

Berlawanan dengan pendapat Pak Din, Pak Pebit, salah seorang kepala adat di sebuah desa Dayak di pedalaman, menegaskan bahwa konsep-konsep kerukunan dan kesetaraan harus dipertahankan dan dipelihara karena konsep-konsep tersebut esensial bagi identitas Dayak. Sekarang, nilai individualistik telah mulai merasuk dalam jiwa masyarakat Dayak. Hal itulah yang membuat mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah individual dibanding di Rumah Betang. Hal ini disebabkan karena proses globalisasi dan modernisasi yang masuk dalam kehidupan masyarakat Dayak, globalisasi membuat nilai kerukunan yang tadinya menjadi ciri masyarakat Dayak menjadi pudar dan tergantikan oleh nilai individualistik. Padahal konsep kerukunan dan tinggal bersama di rumah Betang dan menghindarkan ketamakan adalah nilai budaya yang esensial bagi masyarakat Dayak, dan oleh karenanya nilai tersebut seharusnya dipelihara dan dilestarikan.

Kepustakaan

1. Rumah Betang, Rumah Adat, dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan,http://fazz.wo rd p ress.co m/2 0 0 7 /0 5 /1 8/ rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-yang-hampir-tersingkirkan/, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.58.

2. Ibid.

3. Rumah Betang Suku Dayak di Ambang Kepunahan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/15/sh12.html, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.58.

8 September 2010 - Posted by | budaya

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: