Banua Dayak

Tuah Jubata Ka' Talino

Dayak Bukan Melayu


sumber: http://denmasdeni.wordpress.com/

Tarian Dayak

Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

Asal kata Dayak sendiri hingga sekarang orang masih berbeda pendapat. Ada yang menyebutnya berasal dari kata ‘Daya’, yang dalam bahasa Kenyah berarti hulu sungai atau pedalaman. Namun ada juga –terutama orang luar Dayak pada abad lalu—yang mengartikannya sebagai head hunters atau pengayau. Hal itu dimungkinkan karena tradisi masa lalu mereka yang suka berperang antarsuku, dengan memenggal kepala musuhnya sebagai perlambang penaklukan sekaligus juga ‘teman’ (bagi mereka, kepala musuh yang sudah dipenggal itu bisa juga diartikan sebagai teman, karena selain bisa pelindung mereka dari roh-roh jahat, juga bisa membawa berkah atau rejeki).Dalam sebuah penelitian, disebutkan, pada mulanya suku Dayak berasal dari Provinsi Yunan, sebuah daerah di selatan China (Mainland). Mereka kemudian bermukim di Apo Kayan, daerah Long Nawan sekarang, dekat perbatasan dengan Malaysia. Kapan datangnya, tidak seorang pun tahu –karena kebudayaan Dayak tidak meninggalkan catatan-cataan tertulis. Setelah itu mereka menyebar ke seluruh pelosok Kalimantan, terutama di sepanjang aliran sungainya.Sedangkan menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

orang dayak

Menurut ahli sejarah, dulunya benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).

baliatn

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

8 September 2010 - Posted by | budaya, suku dayak | , , , , , , , , , , ,

32 Komentar »

  1. dan buat kalian sebangsa dan setanah air indonesia yang tidak suka kepada kami suku dayak maka anda harus banyak belajar tentang kebudayaan masa lalu dan jangan menjadikan perbedaan itu sebagai alat pemecah bangsa kita tapi jadikan perbedaan itu sebagai kekayaan bangsa kita INDONESIA

    Komentar oleh yogi chandra | 15 September 2014 | Balas

  2. kami putra dayak tidak lah udik tapi kami menghargai kebudayaan yg telah di tetapkan pendahullu kami,orang dayk masa kini adalah orang dayak yg cerdas ,anda datang saja dan menghina suku dayak maka anda akan tau akibat nya

    Komentar oleh yogi chandra | 15 September 2014 | Balas

  3. DAYAK ANJING PENDATANG HARAM DI KALIMANTAN, LOE SEMUA SUKU DAYAK JANGAN NGAKU NGAKU SUKU ASLI NJING,
    CUIIIIIIH DAYAK KAFIR BANGSAT BUNGUL

    Komentar oleh riko | 19 Februari 2014 | Balas

    • hati”kalau ngomong bos saya dayak asli kamu mawu apa.

      Komentar oleh Agil pahlevi alhazmi | 17 Juli 2014 | Balas

  4. Sejarah2 suku2 Dayak itu cuman di ada-adakan/ di buat-buat,
    Gak sesuai fakta,
    Ada benar nya tuh, dayak setelah kejadian sampit masa lampau, suku ini terlalu mencari2 pencitraan/nama ..
    pengen terkenal atau eksis kali nih suku..wkwkk ngaca lah ..

    Komentar oleh Rahim | 18 Februari 2014 | Balas

  5. Pemikiran loe terlalu buruk, belum apa2 aja udah ngebacot “”Tolong jangan lecehkan
    suku kami,kami tidak pernah
    melecehkan suku yang ada di
    Indonesia””
    Emang siapa yg mau melecehkan suku kalian, gak usah sok lebay dah ..

    Komentar oleh Rahim | 18 Februari 2014 | Balas

  6. Benar sekali,Dayak bukan melayu karna dayak
    Banyak yang beragama kristen/khatolik,
    Dan mereka ini lebih fanatik pada suku dari pada agama,
    Saking fanatik nya mereka lebih suka menyembah burung enggang dari pada burung mereka sendiri..
    Apalagi setelah kejadian 2001 silam, mereka merasa di atas angin, sering menghina/membeda2kan suku lain selain dari rumpunan mereka,
    gwe kemaren pas liburan ke kalimantan “kal-teng” gwe kira sich pada awal nya mereka itu baek dan ramah, seperti yg sering2 gwe baca di internet, eh busyet, ternyata angkuh nya minta ampun brayy,
    Apalagi dayak kristen sekarang yg udah mengenal perkotaan, jangankan senyum di tegur ajah gwe malah mau gampar, et dah pengen rasa nya gwe bom atom tu pulau :-p

    Komentar oleh Rizal | 20 Desember 2013 | Balas

  7. Lucu memang orang-orang cina ini… Heuheu

    Komentar oleh Zendy | 20 Desember 2013 | Balas

  8. melayu asli tu malaysia bahasanya aja melayu
    kalo borneo ini melayu melayuan …silsilahnya hulu/daya/daja/dayak
    dan arti dayak tu udik…..dan kami tidak marah di panggil itu karena kami memang orang asli udik nooongggg…..tapi telah muslim…..

    Komentar oleh isai | 16 September 2013 | Balas

  9. di sini kami multi lingua orang mendawai berbahasa ngadju mereka ngadju muslim
    tapi coba kamu tanya suku apa mereka???? pasti menjawab saya melayuuuu….melayu dari hong kong?????mendawai 100persen muslim.dan menggunakan bahasa ngadju.saya penutur dayak tomun jauuuuuuuuhhhhhhh bedanaya nong!!!!!!! nong/mas atau teman

    Komentar oleh isai | 16 September 2013 | Balas

  10. dan ras antara kita indonesia adalah melayu yang notabene datang dari yunan…
    melayu adalah RAS bangsa bukan suku…suku dayak juga termasuk didalam keluarga besar proto melayu….20ribu tahun yang lalu melayupun beragama animisme
    melayu sekarang memeluk muslim dan islam melarang umatnya untuk minum arak apapun alasanya termasuk budaya,,,,pakaian adat yang dikenakan adalah pakaian resmi nusantara jaman dahulu,,,,kalau mau liat orang melayu apai sabuk coba kau ke padang pedalaman,melayupun sebelum adanya agama juga berpakaian sabuk kapuak kulit meranti ==koma ba kesahan te wa balangk hundin behaum kito nyan bemiyadi ma wa———–

    Komentar oleh isai | 16 September 2013 | Balas

  11. KTP kami melayu buat yang muslim
    akan tetapi keluarga kami yang di pedalaman kalteng adalah suku dayak tomun
    pemisahan itu adalah politik belanda yang mau memcah belah saking bencinya sama muslim…tapi jadi kebiasaan dayak muslim tak akan mengakui secara lisan dan tulisan bahwa dirinya dayak,tapi dalam jiwanya mengakui bahwa dia dayak….karena sebutan dayak pada jaman dahulu slalu mengacu ke animisme….saya asli dayak tomun anak suku dayak ngadju,

    Komentar oleh isai | 16 September 2013 | Balas

  12. nenek moyang saya dayak
    kami muslim dan menyebut diri sebagai melayu
    karena sebutan dayak itu untuk animisme
    di sini kalo dayak beragama muslim pasti menyatakan dirinya melayu

    Komentar oleh isai | 16 September 2013 | Balas

    • tidak saya muslim dan saya dayak sekali dayak tetap dayak

      Komentar oleh Agil pahlevi alhazmi | 17 Juli 2014 | Balas

  13. Salam dari kaltim

    Saya dari suku banjar, sebelumnya saya tidaklah keberatan jika dikatakan asal-usul suku banjar itu dari sumatra/dayak/pencampuran beberapa suku asal ada bukti-bukti yang kuat. Tetapi yang saya baca selam ini bukti-bukti yang kuat itu tidak ada tetapi semua berdasarkan dugaan-dugaan semata, jika dugaan saja bisa disimpulkan lalu di pandang apa ilmu pengetahuan.

    Saya pribadi lebih bisa menerima jika banjar dan dayak itu adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan contoh dahulu kala di kalsel berdiri kerajaan banjar, tentu penduduknya juga orang kalimantan asli dan orangnya jelas di sebut orang banjar / bangsa banjar pada saat itu.

    Sekarang Kerajaan banjar runtuh dan tergabung menjadi NKRI tentu banjar tidak di sebut bangsa lagi tetapi mengecil menjadi suku sekarang mau orang sumatra, kalimantan ataupun jawa jadi orang indonesia.

    Menurut yang katanya ahli yaitu idwar saleh dan daud bahwa banjar itu berintikan melayu sumatra itu juga hanya dugaan kenapa begitu karena untuk menunjuk tahun migrasi begitu detail bukanlah hal mudah karena ada pertanggung jawaban, mengenai candi agung atau candi laras yang katanya di bangun oleh saudagar dari keling yang para ahli banyak merujuk keling dari jawa bukan kelingga dari india juga dugaan, dan anehnya setelah diambil contoh meterial candi di ukur ternyata umurnya jauh terpaut lebih tua sebelum kedatangan ampu jatmika dari keling…. kira-kira bagaimana ini bisa di pertanggung jawabkan.

    Di palembang kalau tidak salah juga ditemukan prasasti atau yupa (saya sudah lupa tapi pernah membaca) bahwa raja sriwijaya melakukan perjalanan suci ke arah timur (Ziarah) dan di kalsel saya lupa tepatnya daerah mana juga di temukan tulisan kedatangan rombongan ziarah tersebut dengan terpaut 1 tahun dari keberangkatan — menurut logika siapa yang tua yanh ziarah atau yang di ziarahi.

    Belum lagi cerita rakyat tentang 2 bersaudara Datu Dayuhan dan Datu Intingan yang menjelaskan bahwa banjar dan bukit adalah awalnya satu kesatuan, belum lagi lambung mangkurat yang asli dayak ngaju atau maanyan di klaim sebagai orang dari tanah jawa, majapahit menaklukkan kalimantan yang data-datanya sangat lemah…. nan sarunai usak jawa bukan berarti penyerangan majapahit bisa saja kebudayaan yang masuk berciri hindu jawa pada masa itu merusak budaya lokal, karena hindu punya masa kejayaan, hindu ada di kalimantan jauh sebelum jawa mengenal hindu ( contohnya kutai martadiputa ).

    Masalah bahasa juga katanya ada pengaruh jawa karena ada kosa kata banyu, lawang dsb…. tetapi jangan mengambil satu dasar saja tolong cakupkan juga banyak dasar, cotoh di jawa tengah ada cerita rakyat bahwa suku jawa (wong jawi asalnya dari teluk sampit nusa bruney) teluk sampit nusa bruney pada masa itu adalah kalimantan selatan rombongan di pimpin oleh ki seng dang bangkai perahu masih ada terbuat dari kayu ulin (kata orang jawa kayu besi dari kalimantan). Jadi kalau mau di balik bisa tidak orang jawa sekarang bahasa terpengaruh dengan bahasa kalimantan selatan.

    Jadi jangan egois dan jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan.

    Saya orang banjar mengakui orang bukit/dayak bukit, ngaju dan maanyan adalah saudara kami tanpa merasa malu sedikitpun.

    Orang jawa identik dengan huruf O dan E orang banjar asli sangat repot jika harus mengucapkan huruf O fan E contoh jika terpaksa berbahasa indonesia = “bohong” = pasti orang banjar mengatakan = “buhung” = benar tidak ??????

    Komentar oleh Jufriansyah | 31 Maret 2013 | Balas

  14. untuk informasi tambahan.kalau di lakukan riset track back,nama keluarga suku dayak memang beberapa bermarga china.di dayak kenyah banyak marga Ding,da dayak ngaju banyak marga Huang, di dayak kalbar byk bermarga Lim. kakek -nenek buyut (Abo Tjau dan Lun Tjat) bukan WNI di zaman dulu karena marga mereka, kakek saya (Tjau La Hang) bahkan mengecap ganti nama supaya dapat kewarganegaraan indonesia dan juga keluarga kakek saya menjadi korban pas rezim soeharto. tapi kakek buyut dan kakek saya sudah berakar dgn budaya dayak dan menganggap china sebagai leluhur kami. orang dayak bukan keturunan,tapi peranakkan dr tionghoa.kami tidak mengerti semua budaya china,tp kami menghormati budaya china. ayah saya yang dayak ngaju/kapuas pun masih peranakan tapi jauh generasinya.itu dari nenek buyut saya dr pihak dayak ngaju bermarga Lu tapi mengubahnya menjadi Luwuk.semoga menjadi wawasan baru.bangga jadi orang Indonesia. TUHAN memberkati.

    Komentar oleh iamwhoiam | 29 Juni 2012 | Balas

  15. salam kenal.benar,dayak adalah salah satu suku yunan,china yg berimigrasi ribuan tahun yg lalu.china yg kita tau di indonesia kebanyakkan orang hakka dan hokkian.china sebenarnya ada 56 suku skarang.kira2 tahun 1400-1805,ribuan penambang2 (semua laki2) dari guang dong (kuangtung) dan fujian rrc,masuk ke kalimantan untuk mengambil emas tapi setelah berabad2 emas itu habis.selama mrka di kalimantan,mereka menikah dengan wanita dayak dan beranak cucu (terutama di Kalimantan Barat dan Timur) dan kebanyakan mereka masuk ke budaya dayak karena menghormati tanah orang kalimantan mereka tidak membesarkan budaya china.mereka memang karakternya begitu, masuk ke budaya setempat di mana mereka hidup.saya tau karena saya orang dayak (kenyah dan ngaju) tapi keluarga saya bermarga china yaitu Tjau,Lun dan Li. orang chinese kadang menyebut dayak anak “peranakkan” Kakek leluhur saya bernama Abo Tjau (almarhum) kakek saya Tjau La Hang.semua mengaku dayak.beberapa bilang mrka orang Cin.beberapa bilang kami Pang Tong/peranakan.

    Komentar oleh iamwhoiam | 29 Juni 2012 | Balas

  16. udh nampak sekali org melayu yg coment disini “NYANDU” kekuasaan,memalukan..!!!.banyak jejak kerajaan Dayak di masa lampau yg sengaja di hilangkn/dimusnahkn oleh kaum ini,karena takut akan bangkitnya Dayak2 muda dimasa depan.cth:kerajaan Dayak SELAKO di Kec.Singkawang timur yg msih ada sisa keberadaannya tak prnah di publikasikn,smentara kerajaan sambas yg brdiri 1652 di anggap kerajaan I…aneh…,melayu candu otak perompak..

    Komentar oleh Bakati | 3 Mei 2012 | Balas

    • Biar omongin dengan fakta mas

      Komentar oleh mas kerto | 26 Juni 2012 | Balas

  17. Saya Dayak Ma’anyan…kelihatannya orang2 melayu ini pengen menjadi suku asli kalimantan hehehehe…..suku banjar aja baru terbentuk setelah masuknya agama islam…sedangkan kami dayak udah ada dari sebelm islam….

    Komentar oleh usup | 18 April 2012 | Balas

    • usup : tau dari loe, hah ?
      Emang loe pernah ngeliat langsung nenek moyang loe bermigrasi ke kalimantan terus ngentot terlahir lah kalian suku dayak?
      Bisa jadi kalian suku dayak lah yg pendatang di kalimantan sini,..
      Otak loe tumpul bro, kaga bisa bedain yg mana suku dan nama kota ..

      Komentar oleh Rahim | 18 Februari 2014 | Balas

  18. Biar makin lengkap maen2 ke Kapuas Hulu…
    Mungkin masih bisa dapat data2 baru…
    Salam Kenal….

    Komentar oleh Geofani | 27 Februari 2012 | Balas

  19. Dayak adalah penduduk asli Proto Melayu yang datang 3000-1500 SM,punya identitas budaya yang jelas.Sedangkan Deuro Melayu adalah pendatang yang datang belakangan yang diam di pesisir sungai,laut dan danau dari bahasa dan budayanya jelas suku-suku apa saja itu.Dayak adalah penduduk Kalimantan asli tidak suka namanya merantau dan mencaplok daerah pulau lain lalu mengklaim sebagai penduduk asli pulau itu.Semua orang indonesia berasal dari Benua Asia nenek moyangnya, jangan lupakan itu.Tapi kejadian itu ribuan tahun adanya,seandanya itu baru terjadi beberapa abad saja, pastilah suku setiap suku Dayak menguasai huruf cina tapi faktanya bukan begitu,karena ciri khas orang China sangat kuat memegang adat dan tradisi.Lain halnya China di Kalbar yang datang bebrapa abad yang lalu.Kalau begitu artinya, pastilah suku Dayak datang di Kalimantan sebelum huruf dan aksara Cina ditemukan.Akan tetapi kenyataanya mereka hanya menguasai perladangan,bentuk rumah panjang,dan senjata mirip kebudayaan Dongson di Vietnam.Tolong jangan lecehkan suku kami,kami tidak pernah melecehkan suku yang ada di Indonesia.

    Komentar oleh Naftali | 8 Februari 2012 | Balas

  20. saya juga pernah membaca buku yang sama : buku sejarah suku-suku di Indonesia yang menyatakan bahwa suku dayak yang dulunya bernama suku darat merupakan suku yang kalah perang di Yunan (Cina). Mereka pada jaman dulu (karena kalah perang) lari/merantau ke Nusantara (sekarang Indonesia) menuju pulau Kalimantan yang kemudian menjadi suku darat yang selanjutnya berubah menjadi suku dayak. kemudian menuju sumatera menjadi suku nias, dan menuju sulawesi menjadi suku toraja.
    Kemudian dalam buku tersebut bahkan informasi dari orang-orang tua bahwa suku asli Kalimantan adalah Suku Melayu, hanya saja ada sub sukunya karena Melayu sangat besar/banyak antara lain Padang, Bugis, Jawa dll.
    Semoga bermanfaat sebagai informasi.

    Komentar oleh Yanis Cristian | 23 Januari 2012 | Balas

  21. Dengan adanya artikel/berita ini semakin memperjelas buku “Sejarah Suku-suku di Indonesia” yang pernah saya baca lebih 20 tahun lalu dan hasil kunjungan salah seorang Ustadz yang mengelilingi Indonesia yang pernah singgah di pedalaman Kalteng bertemu tetua dayak disana yang mana mereka mengatakan bahwa mereka (dayak) bukanlah asli kalimantan melainkan dari daratan Cina (Yunan). Berita ini semakin tidak terbantahkan lagi.

    Lihat saja persamaan dayak dengan Cina dari warna kulit, bentuk muka, warna merah, mata yang cendrung sipit, kebiasaan minum-minuman keras, tempayan, lobang anting yang besar (cina pedalaman atau suku pedalaman di thailand juga demikian), bentuk-bentuk kesenian dan persamaan2 yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

    Jadi kalau generasi muda dayak sekarang mengatakan bahwa mereka adalah penduduk asli (pribumi) kalimantan amatlah salah besar.

    Apalagi kalau meng-claim bahwa suatu daerah atau tanah tertentu seperti Landak dikatakan Tanah Dayak (Lan katanya Tanah, Dak katanya = dayak) adalah lebih salah lagi karena Landak berdasarkan sejarah yang tidak terbantahkan adalah milik Kerajaan Landak yang merupakan salah satu kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Barat.

    Demikian juga di Mempawah, Sambas, Sekadau, Sintang, Kapuas Hulu, semuanya menurut sejarah adalah merupakan milik kerajaan Islam (Melayu/Jawa).

    Menurut buku “Sejarah Suku-Suku di Indonesia” suku asli Kalimantan adalah suku Melayu tetapi ada sub sukunya karena Melayu bukanlah hanya sebatas etnis tetapi merupakan Rumpun Besar yang didalamnya terdapat sub suku seperti : Bugis, Padang (Minangkabau), Batak, Banjar, Jawa, Sunda dan lain-lain bahkan suku-suku tertentu yang ada di Mindano (Thailand) dan Pattani (Filipina).

    Saking besarnya, Melayu tidak hanya di Indonesia saja tetapi juga negara-negara lain seperti Brunai, Malaysia, Singapura, Timur Tengah (Negara Arab) juga di Thailand dan Fhilipina seperti yang telah diungkapkan diatas.

    Komentar oleh Ahmad | 23 Januari 2012 | Balas

    • saya juga pernah membaca buku yang sama : buku sejarah suku-suku di Indonesia yang menyatakan bahwa suku dayak yang dulunya bernama suku darat merupakan suku yang kalah perang di Yunan (Cina). Mereka pada jaman dulu (karena kalah perang) lari/merantau ke Nusantara (sekarang Indonesia) menuju pulau Kalimantan yang kemudian menjadi suku darat yang selanjutnya berubah menjadi suku dayak. kemudian menuju sumatera menjadi suku nias, dan menuju sulawesi menjadi suku toraja.
      Kemudian dalam buku tersebut bahkan informasi dari orang-orang tua bahwa suku asli Kalimantan adalah Suku Melayu, hanya saja ada sub sukunya karena Melayu sangat besar/banyak antara lain Padang, Bugis, Jawa dll.
      Semoga bermanfaat sebagai informasi.

      Komentar oleh Yanis Cristian | 23 Januari 2012 | Balas

    • SEJARAH KERAJAAN MEMPAWAH
      Kerajaan Mempawah bermula dari sebuah kerajaan Dayak yang berkedudukan di dekat pegunungan Sidiniang, Sangking, Mempawah Hulu yang berdiri kira-kira tahun 1340 Masehi. Kerajaan yang dipimpin oleh Patih Gumantar itu
      disebut-sebut sebagai pecahan kerajaan Matan/Tanjungpura. Kerajaan ini sangat populer pada zamannya. Patih Gumantar juga telah mengajak Patih Gajahmada dari kerajaan Majapahit mengadakan kunjungan dalam menyatukan Nusantara. Kunjungan ini kemungkinan besar dilaksanakan sesudah lawatan Gajahmada ke kerajaan Muang Thai dalam membendung serangan kerajaan Mongol. Saat itu Gajahmada memberikan hadiah Keris Susuhan yang masih tersimpan sampai saat ini di Hulu Mempawah. Kerajaan ini harus berakhir ketika kira-kira tahun 1400 Patih Gumantar tewas terkayau oleh serangan suku Biaju/Miaju.

      Sekitar tahun 1610 kerajaan ini bangkit dan dilangsungkan di bawah kekuasaan Raja Kudung/Kodong. Pusat pemerintahan kerajaan Dayak ini berada di Pekana, Karangan. Istrinya bernama Puteri Berkelim.

      Setelah Raja Kodong wafat pada tahun 1680, pemerintahan digantikan oleh Raja Senggauk/Sengkuwuk. Ibukota kerajaan dipindhkan dari Pekana ke Senggauk, hulu sungai Mempawah. Raja Dayak ini beristrikan putri Kerajaan Batu Rizal Indragiri Sumatera yang bernama Putri Cermin. Putri Raja Kodong yang bernama Utin Indrawati kemudian dinikahi Panembahan Muhammad Zainudin, putra Kerajaan Tanjungpura.

      Putri Kesumba, cucu Raja Senggauk dari Panembahan Muhammad Zainudin kemudian menikah dengan Opu Daeng Menambon, bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari kerajaan Luwuk yang berdiam di Kerajaan Tanjungpura. Opu Daeng Menambon kemudian diangkat sebagai raja. Ia memindahkan pusat kerajaan ke daerah Sebukit Rama.

      Tahun 1766 setelah wafatnya Opu Daeng Menambon, putra mahkota bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya naik takhta. Adiwijaya terkenal anti penjajahan dan pada masanya perlawanan terhadap Belanda pernah terjadi di daerah Galaherang, Sebukit Rama dan Sangking.

      Tahun 1840 takhta diserahkan kepada putra mahkota Gusti Jati. Kota pusat kerajaan dibangun di pulau Pedalaman, tempat bekas pendudukan Belanda. Ibukota pusat pemerintahan dinamakan Mempawah, satu nama yang diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di hulu sungai Mempawah, yakni pohon Mempauh.

      Pada zaman pemerintahan Gusti Jati terjadi serangan Sultan Kasim dari kerajaan Pontianak yang mengakibatkan mundurnya Gusti Jati ke daerah kerajaan lama, walau Sultan Kasim berhasil diusir mundur ke Pontianak. Tahun 1831 Belanda memanfaatkan kesempatan dengan menobatkan Gusti Amin menduduki kursi pemerintahan. Raja-raja berikutnya juga merupakan boneka Belanda. Setelah raja Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin ditangkap Jepang pada tahun 1944, Jepang mengangkat raja Gusti Mustaan sebagai pemangku jabatan Wakil panembahan karena putra mahkota masih terlalu muda. Putra mahkota tertua, Drs Jimmy Ibrahim, kemudian tidak melanjutkan pemerintahan karena penghapusan swapraja di Indonesia.
      “anda salah besar dalam persepsi sejarah Borneo,demikian juga dgn wilayah2 lainnya di Borneo. nampak sekali kalian menghilangkan jejak2 sejarah Dayak di masa lalu)

      Komentar oleh Hatari | 3 Mei 2012 | Balas

  22. Betul sekali bahwa Dayak memang bukan Melayu namun Dayak ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Kaharingan. Jadi apa salah jika Dayak berbeda agama? tentu tidak, namun sebagai orang Borneo maka sewajarnyalah kita menerima perbedaan yang telah diciptakan oleh pendahulu kita dimana oleh akibat sejarah maka kita menjadi berbeda dalam keyakinan namun apakah kita sebagai orang Borneo patut membedakan diri kita? saya rasa tidak perl. Islam kah, Kristenkah, Katolik kah, Hindu kah, Kaharingan kah dia semua orang Borneo yang memiliki puak yang sama. Patut kita ketahui memang benar ketika Dayak memeluk Islam maka dia biasanya enggan menyebut diri sebagai Dayak melainkan merubah identitasnya menjadi Melayu atau apalah namanya. Hal itu dikarenakan faktor sosial dimana dia tinggal. Kebanyakan yang terjadi seperti itu.
    Jika memang Dayak Islam itu adalah Melayu, mengapa bahasa Melayu nya dan budaya Melayunya tidak sama dengan budaya Melayu lainnya? Hanya satu yang menyamakannya adalah sebutan “Melayu” dan tarian “Jepin”. Memang benar sekali ketika seseorang menjadi ISlam maka sekaligus pula dia menjadi Melayu. Berarti Melayu=Islam, ISlam = Melayu. Tetapi masuk akalkah jika seseorang misalnya suku Batak atau Dayak atau Nias atau Ambon memeluk ISlam lalu dikatakan berubah suku menjadi Melayu? jawabnya adalah “tidak masuk diakal”.
    Dayak kah dia, Batakkah dia, Ambonkah dia, Nias kah dia jika memeluk ISlam tetaplah menjadi Batak, Dayak, Nias, Ambon adalah sukunya namun ISlam agamanya. Tidak ada yang perlu dirubah atas identitas diri tersebut. Malukah menggunakan nama suku anda sendiri kalau anda Islam? misalnya anda adalah Dayak Islam maka selayaknyalah anda mengatakan bahwa diri anda adalah Dayak yang beragama Islam. Saya Batak misalnya, tentu saya akan katakan kalau diri saya ini Batak yang beragama Islam. demikian pula yang terjadi di kalangan Melayu. Jika dia adalah seorang Melayu asli lalu beragama Kristen, salahkah dia mengatakan dirinya adalah suku Melayu yang beragama Kristen? tidak salah bukan? bukan lantas karena Melayu beragama Kristen lalu anda menghilangkan status kesukuan anda.

    Komentar oleh estimate | 23 November 2011 | Balas

    • Saudara benar. Agama tidak bisa disatukan dengan suku bangsa. Agama ya agama, suku ya suku. Jadi seharusnya orang dayak yang masuk agama Islam tetaplah suku dayak tapi Muslim. Demikian pula dayak yang kristen disebut dayak kristen baik khatolik ataupun protestan. Karena dayak tidak identik dengan kristen sebab aslinya dayak adalah animisme. Setelah penjajahan belanda barulah dayak mengenal kristen. Cuma persoalannya tidak hanya orang dayak yang Muslim malu mengakui dirinya dayak tapi sebagian besar orang dayak yang kristen juga tidak mau mengakui dayak yang Muslim tersebut adalah suku dayak. Orang dayak kristen mengatakan bahwa orang dayak yang telah masuk Islam adalah Melayu. Ini sangatlah keliru. Kemudian saya luruskan juga, bahwa Melayu tidak hanya suku atau etnis semata, tetapi Melayu lebih besar dari itu. Melayu merupakan rumpun yang didalamnya ada suku Banjar, Padang, Bugis, Batak, Jawa dan sebagainya. Melayu dikatakan rumpun karena dia tersebar tidak hanya di Indonesia tetapi juga diluar negeri seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Mindanau (Thailand/Muangthai), Patani (Filipina) bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah. Jadi Melayu itu amat sangat luas keberadaannya tidak hanya di Kalimantan dan di Indonesia.

      Komentar oleh Ahmad | 22 Januari 2012 | Balas

      • Sangat benar. Agama jangan disamakan dengan suku. Agama merupakan produk dari Tuhan Yang Maha Esa sang Pencipta tapi suku adalah produk manusia yang di ciptakan-Nya, jadi bagaikan langit dengan bumi.
        Namun ada juga produk suatu suku sumbernya dari Kitab Suci yang diturunkan oleh Tuhan. Contoh yang banyak kita kenal adalah produk dari Suku Melayu yang banyak bersumber dari Kitab Suci Alquran dan Hadits, oleh karenanya wajar kalau Melayu di Identikkan dengan Islam karena Melayu tidak bisa dipisahkan dengan kitab Suci Alquran dan Al Hadits. Berbeda dengan suku-suku yang lain yang banyak sekali masih mengadopsi kebiasaan animisme yang bertentangan dengan agama samawi. Dikatakan bertentangan karena agama diturunkan kemuka bumi adalah merombak kebiasaan-kebiasaan yang salah seperti sesajen, menyembah patung/kayu/pohon padahal semua itu hanyalah makhluk ciptaan Tuhan sementara patung/kayu dengan segala bentuknya merupakan ciptaan manusia.

        Komentar oleh Agung | 23 Januari 2012

    • Komentar panjang namun gak berisi.terserah dah lu dayak mau nyebut diri dayak kek, melayu/bani jawi kek..
      Masabodo, Jaman dulu aja sebenarnya kaga ada penyebutan melayu / dayak
      nama dayak sendiri sebenar nya di berikan oleh belanda
      Untuk menyebut orang2 kalimantan pd jaman dulu
      Nama dayak itu ber’artikan udik atau terbelakang, loe tanya dah ma tetuha2 yg memang tau petuah nya…
      Kenyataan sih kalau suku dayak itu memang udik

      Komentar oleh Rahim | 18 Februari 2014 | Balas

  23. salam tuan.. salam kenal saya blogger Dayak Iban dari Sarawak..

    Komentar oleh Mr J | 10 Desember 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: